Member Login

Detail Pengunjung

United States

Unknown Bot
IP Anda : 38.107.179.216

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini51
mod_vvisit_counterKemarin232
mod_vvisit_counterMinggu ini885
mod_vvisit_counterMinggu lalu1800
mod_vvisit_counterBulan ini6430
mod_vvisit_counterBulan lalu10142
mod_vvisit_counterAll days71687
Tentang GPdI Bethesda PDF Print E-mail
Written by Administrator Bethesda   
Wednesday, 23 March 2011 14:48

Perjalanan Pelayanan Pdt. Ernest Killing

(perintis GPdI Bethesda)

 

Dengan biaya sendiri ia merantau ke Jawa hanya untuk Sekolah Alkitab. Panggilan hidupnya HANYA melayani Tuhan dengan segenap hati Beragam pelayanan sudah dilakoninya mulai dari PENGERJA hingga perintis tiga gereja GPdI besar di Jawa Barat. Tak heran ia sempat dikenal sebagai Kiai Kristen saat pertama kali merintis gereja di Cirebon.


Pendeta Ernest Killing tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa dirinya bisa menjadi seorang hamba Tuhan di Jawa Barat. Ia tadinya hanyalah seorang pedagang hasil bumi di Minahasa dan seorang guru sekolah minggu. Tapi Tuhan mengubahnya dengan luar biasa sehingga ia menjadi hamba Tuhan yang melahirkan banyak gereja di Jawa Barat.


Ernest mengawali kehidupan seorang pengerja di GPdI Cirebon pada tahun 1960-an. Oleh karena pelayanan Ernest yang baik saat masih menjadi pengerja di GPdI Cirebon dibawah pengembalaan Alm Pdt Lontoh maka ia didesak oleh jemaat Jatiwangi Cirebon untuk menjadi gembala disana. Namun ia tidak mau merusak pengembalaan Pdt Lontoh, maka ia memutuskan keluar dari gereja yang sudah dua tahun dilayaninya itu.


“Saya pergi ke arah timur ke Ciledug Babakan Cirebon, kira-kira 45 KM dari kota Cirebon untuk membuka sidang jemaat baru. Sebelumnya saya pamit sama om Lontoh, saya bilang om saya mau merintis di Ciledug. Om kaget sekali. Lantas dia bilang kamu mau makan apa di sana Ernest? Karena memang disana tidak ada orang Kristennya. Saya bilang om, Tuhan yang akan beri makan. Lantas saya minta di doakan dan berangkat,” kisah ayah dari Selvie, Henny dan Vonny ini.


Saat meninggalkan pastori GPdI Cirebon Ernest membawa semua baju dan buku-bukunya. Setiba di daerah Babakan itu, ia pun menenteng semua barangnya dan mengelilingi seluruh daerah itu. Malamnya ia terpaksa tidur di bale-bale pasar Ciledug. Tidak tahunya jam 10 malam ia dibangunkan oleh Hansip Pasar yang mengatakan mengapa berpakaian bagus begitu tapi tidur di pasar.


“Rupanya pasar itu buka jam 10 malam. Dari berbagai daerah orang datang untuk berjualan di sana. Hansip langsung memanggil beberapa temannya mereka bertanya kepada saya, siapa saya. Saya katakan saja, saya Kiai. Tapi Kiai Kristen. Mereka terkejut, kiai kok masih muda. Namun oleh karena kebaikan hati mereka dan pertolongan Tuhan saya dipersilahkan melanjutkan tidur di pos hansip itu,” kenang Ernest. Keesokan harinya ia melanjutkan perjalanan dengan mengelilingi daerah pemukiman Tionghoa. Ia kemudian digerakan Tuhan memasuki sebuah rumah tepatnya sebuah gubuk yang dihuni oleh seorang encek-encek bersama istrinya yang sudah tua dan seorang anak mereka.


Ernerst pun bersaksi lantas bertanya apakah ia bisa membuka gereja di rumah itu. Encek-encek itu bilang boleh saja asalkan mereka dikasih makan. Ernest menyanggupinya meskipun ia sendiri tidak punya uang. Berhari-hari kemudian ia mulai melakukan penginjilan dari rumah ke rumah. Ia menceritakan kasih Tuhan dan keajaiban Tuhan dalam kehidupan manusia. Dari sini ia kemudian dikenal sebagai Kiai Kristen. Kisah Kiai Kristen beredar dimana-mana. Hingga suatu hari ada seorang Haji bersama istrinya dan anak mereka, seorang perempuan yang baru dua bulan menikah, yang kerasukan setan datang ke rumahnya disertai ratusan penduduk desa. Ia memohon Ernest untuk mendoakan sekaligus menyembuhkan anak mereka itu.


“Saya bilang saya tidak memiliki kuasa tapi Yesuslah yang berkuasa. Ketika anak mereka melihat saya ia lari ketakutan. Saya hardik dia dan suruh masuk ke dalam rumah. Ia dengan patuh dengan sedikit ketakutan masuk lalu saya suruh duduk di kursi. Kemudian saya lantas mendoakan dia. Dalam nama Yesus saya usir semua roh jahat dalam diri orang ini. Seketika itu ia terpelanting dan terjatuh tertelungkup, tidak bergerak sama sekali. Orang-orang pada terkejut. Ibunya bertanya apa dia sudah mati, saya bilang dia tidak mati. Benar saja beberapa saat kemudian ia bangun dan minta makan. Ia bertanya-tanya ada dimana saya. Ibunya senang sekali dan memeluk dia serta berkata bahwa dia ada dirumah pendeta,” kisah suami dari Anneke Tulangow ini.


Sebelum pulang dari rumah Ernest Ibu itu hendak memberikan uang kepadanya sebagai biaya pengobatan. Tapi Ernest menolak. Ia berkata bahwa penyembuhannya itu dilakukan Yesus jadi tidak perlu bayar, namun jika ibu tergerak dan rela memberikan silahkan saja. Ibu itu pulang bersama suami dan semua orang yang beserta dia.


Kisah penyembuhan itu didengar semua orang. Hari itu juga nama Ernest disebut-sebut, dan orang-orang yang dia layani sebelumnya mendengar juga kisah itu bahkan ada dari mereka yang menyaksikannya. Mereka pun semakin percaya kepada Tuhan. Tak lama kemudian mereka meminta dibaptis dan menjadi jemaat pertama GPdI Babakan Ciledug Cirebon.


Keesokan harinya ibu dan bapak Haji itu datang lagi. Mereka memaksa Ernest menerima uang dari mereka. Ibu itu berkata bahwa dia rela memberikan uang tersebut. Ernest menerimanya dan menasehati mereka untuk memanggil nama Yesus setiap kali ada masalah. Mereka pun pulang dengan gembira.


Ernest lantas memakai uang itu untuk membeli dua buah sepeda baru. Yang dipakainya mengelilingi daerah itu melakukan penginjilan dari rumah ke rumah. Tak lama kemudian seorang pendeta lain meminta satu sepedanya iapun dengan rela hati memberikannya. Baginya berkat Tuhan harus disalurkan karena itulah kehendak dan perintah Tuhan dalam kehidupan Kristen.


Pelayanan Ernest mulai berkembang. Tuhan semakin banyak mengirimkan jiwa-jiwa untuk dilayaninya. Belum sampai dua tahun ia melayani disana sudah terhimpun lebih dari seratus orang termasuk anak-anak. Saat itu ada tiga tempat pelayanan yang dibukanya dari situlah Tuhan memberkati Ernest, dan dia pun menepati janjinya untuk memberi makan kepada keluarga Encek-encek yang pertama kali membuka rumah untuknya.


Selang beberapa waktu kemudian Ernest merasa ia memerlukan seorang istri yang dapat membantu pelayanannya yang semakin berkembang. Dia pun memutuskan mencari ke beberapa gereja mulai dari Rengasdengklok hingga Ketapang Jakarta, tapi tidak menemukan seorangpun. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang kampung bersama beberapa rekan pendeta seperti Ernest Temo dan Pdt Robot.


Setibanya di desa Taraitak Langowan tempat kelahirannya, Ernest mengalami sakit perut sehingga tidak bisa beribadah pada hari minggu. Keesokan harinya saat ia melintasi gereja GPdI yang digembalakan Pdt Alex Tulangow, ia melihat seorang gadis Anneke, anak Pdt Tulangow sedang mencuci pakaian di depan pastori. Hatinya tergerak dan merasakan bahwa itulah pasangan hidupnya nanti. Benar saja setelah proses perkenalan, tiga bulan kemudian mereka menikah.


Saat akan hijrah kembali ke Jawa, keluarga Ernest menghendakinya menekuni lagi usaha jual beli hasil bumi. Karena ia merupakan seorang yang rajin dan berhasil meskipun saat itu masih duduk di bangku sekolah. Setiap pagi ia bangun subuh dan berjualan di Pasar Tomohon. Siangnya ia pulang dan sekolah. Tidak lupa hari minggu menjadi Guru Sekolah Minggu dibawah pengembalaan Pdt Wuisan. Tidak heran Tuhan memberkati Ernest berlimpah-limpah. Bahkan ia berangkat Sekolah ALkitab di Beji dengan uang sendiri. Ia pun langsung membayar uang sekolah selama dua angkatan lunas!


Karena sikap rajin nya hingga di Sekolah Alkitab ia sangat disayang oleh Pdt Broadland, Pemimpin Sekolah Alkitab Batu saat itu. Apalagi Ernest mewarisi ketrampilan tukang kayu dari ayahnya yang sering membuat rumah-rumah Khas Minahasa yang dijual hingga ke Manado. Maka ia bersama Pdt Broadland mengerjakan lemari-lemari hingga ke tempat tidur Sekolah Alkitab Batu itu.


Saat ia akan pindah ke Cirebon menjadi pengerja di sana, Pdt Broadland membuka peti-peti berisi baju yang dikirim dari Amereka dan mempersilahkan Ernest mengambil sebanyak mungkin baju dan sepatu, dasi dan celana untuknya. Tak heran ketika tiba di Cirebon gembalanya Pdt Lontoh sempat berujar, “Luar biasa berkat Tuhan dalam hidup kamu Ernest.” Karena beliau tidak mengenakan baju seperti Ernest. Tapi ini tidak membuat Ernest sombong dan takabur, malahan semakin memacu dia melayani dengan giat, hingga akhirnya memutuskan pindah ke Ciledug.


Anneke sangat membantu pelayanan Ernest di Babakan. “Dia adalah pendoa syafaat saya yang paling utama. Tante itu sangat sering sekali berdoa dan berpuasa. Dia sangat tekun mendoakan satu persatu jemaat yang ada,” kata Ernest ketika ditanya tentang istrinya.


Dari pernikahan mereka Tuhan memberikan tiga orang anak yakni Selvie, Henny dan Vonie. Ketika Selvie kemudian disunting Pdt Hesky Rorong, maka Ernest dan Anneke memutuskan merintis pelayanan di Pondok Gede Bekasi Jawa Barat. Mereka melakukannya karena panggilan Tuhan dan kerinduan yang besar dalam membuka pelayanan baru. Sedangkan pelayanan di Babakan Cirebon dipercayakan kepada anak sulungnya dan suaminya.


“Orang-orang menyebut kami sudah gila, karena sudah tua dan memiliki pelayanan yang mapan namun masih mau terjun merintis dari nol. Tapi kami memiliki hati untuk melayani Tuhan. Sehingga kami tidak mempedulikan omongan orang-orang. Yang penting hati kami tulus melayani,” ujar Anneke saat menemani Ernest diwawancarai di kediaman mereka di Cirebon belum lama ini.


Di Pondok Gede, keduanya bahu membahu melayani. Setahun kemudian mereka memutuskan membeli sebidang tanah disana untuk dibangun gereja, inilah masa awal berdirinya GPdI Bethesda. Mereka berdoa dengan sungguh-sungguh lalu Tuhan mengirimkan berkat dari Langowan Sulut untuk membeli tanah dan membangun gereja.


Saat pembangunan ada seorang yang ingin menggagalkannya namun Ernest terus berdoa dan Anneke berpuasa, akhirnya Tuhan mengirimkan bantuan lewat pengaruh seorang tetangga yang orang Manado yang tinggal tidak jauh dari gereja itu. Setahun kemudian gereja itu telah berdiri megah dan bisa langsung dipakai ibadah Natal.


Tentu saja keduanya sangat bersukacita dan semakin tekun melayani. Dari sini Tuhan mengirimkan lebih banyak lagi jiwa-jiwa untuk mereka layani. Dalam keadaan itulah Ernest semakin tahu bagaimana sulitnya merintis namun imannya semakin besar. Ia memiliki beban besar untuk membantu para hamba Tuhan di perintisan. “Saya ingin mereka hidup tercukupi dan punya gereja sendiri,” katanya.


Beberapa tahun kemudian Majelis Pusat GPdI menugaskan Ernest kembali ke kota Cirebon untuk merintis jemaat baru di sana. Dengan hati bangga karena mendapat kepercayaan yang besar itu, ia bersama Anneke kembali bersiap-siap merintis di kota itu. Pelayanan GPdI Bethesda di Pondok Gede dipercayakan kepada Pdt Hesky Rorong dan istrinya Selvie Kiling. Sementara pelayanan di Babakan diserahkan kepada seorang hamba Tuhan lain.


Di Cirebon kota, mulanya Ernest membuka gereja di rumah seorang dokter. Namun karena rumah itu mulai diganggu masyarakat sekitar, akhirnya ia mencari tempat beribadah lain. Yang terpikir dibenaknya saat itu adalah meminjam sebuah gereja protestan. Niat mulia ini tidak mudah. Ia mendapat tantangan keras dari Majelis Jemaat gereja. Namun ketika bertemu dengan mereka ternyata semua adalah teman-teman Ernest beberapa tahun lalu saat ia masih menjadi pengerja di Pdt Lontoh. Akhirnya ia diperkenankan memakai gereja itu untuk ibadah GPdI. Suatu hal yang jarang terjadi. Saat ada Mubes GPdI, Pdt A.H Mandey sangat surprise karena mendengar Ernest beribadah di Gereja Protestan.


Di gereja ini kembali Tuhan mengirimkan banyak jiwa-jiwa dan memberkati pelayanan Ernest. Hingga ia mau tak mau memutuskan untuk pindah dan membeli sebuah gereja sendiri. Karena jemaat sudah penuh sesak. Ernest berdoa puasa tiga hari bersama istri dan jemaat. Tak lama kemudian Tuhan menunjukkan sebuah ruko di Jalan Pulau Seran Cirebon baginya. Ernest berdoa kembali dan menjual mobilnya untuk membeli ruko itu. Mendengar dan melihat pengorbanan gembalanya jemaat pun tergerak memberikan miliknya, akhirnya ruko itu dibeli dan dipakai menjadi tempat ibadah gereja yang baru hingga sekarang.


Saat GP menemui Ernest dan istrinya di Cirebon, mereka tinggal disebuah ruko lain tepat berhadapan muka dengan gereja. “Ini ruko yang Tuhan berikan bagi kami setelah gereja itu,”ujar Ernest. Baginya soal rumah, gereja atau tempat tidak masalah bagi Tuhan. Dia sanggup menyediakan yang terbaik bagi hambaNya. “Tuhan tidak kekurangan berkat untuk memberkati, hanya dibutuhkan ketekunan, kesungguhan, motivasi yang murni, perjuangan, doa dan puasa,” katanya.


Sekarang ini ia dikenal suka melakukan pendampingan langsung bagi setiap pendeta yang bermasalah sehingga kesejahteraan mereka bisa terwujud. “Bagi saya para pendeta itu harus sejahtera supaya mereka bisa melayani dengan baik,” katanya.

 

(***hk - terangdunia)

Last Updated on Wednesday, 13 July 2011 15:24
 


Copyright © 2011 - 2011 GPdI Bethesda all rights reserved